Rabu, 21 Mei 2008

harga diri adalah harga mati yang harus dilindungi

Paradikma Baru Orang Komering
20 05 2008
Jalan pikiran orang-orang muda komering sudah jauh berubah dari para dikma lama dan pendapat orang mengenainya, dulu orang komering terkenal temperamental itu tidaklah semuanya benar…pendidikan dan pengalaman menempa orang-orang muda dari suku ini telah merubah cara pemikiran tersebut, tapi sifat yang tetap selalu dipegang orang komering adalah ketegasan dan komitment dalam setiap tindakan, Agama dan Pendidikan telah mengiring kita pada wacana baru ” Orang komering yang terdidik ” jauh dari kekerasan yang mendahulukan emosi dalam setiap tindakan dan menyeimbangkan antara Kecerdasan pikiran dengan kecerdasan emosional, dan mudah-mudahan dan telah terbukti banyak orang komering telah menjadi pemain yang bagus di negara ini…semoga Tuhan yang maha kuasa selalu mentautkan kita selalu dalam persaudaraan sebagai bangsa Indonesia.
Komentar : Tidak ada komentar »

Kategori : Uncategorized
________________________________________
Menelusuri Arsitektur Rumah Suku Komering
20 05 2008
Menelusuri Arsitektur Rumah Suku Komering

– Erwan Suryanegara bin H Asnawi*
KOMERING merupakan salah satu suku atau wilayah budaya di Sumatra Selatan, yang berada di sepanjang aliran Sungai Komering. Seperti halnya suku-suku di Sumatra Selatan, karakter suku ini adalah penjelajah sehingga penyebaran suku ini cukup luas hingga ke Lampung.
Suku Komering terbagi beberapa marga, di antaranya marga Paku Sengkunyit, marga Sosoh Buay Rayap, marga Buay Pemuka Peliyung, marga Buay Madang, dan marga Semendawai. Wilayah budaya Komering merupakan wilayah yang paling luas jika dibandingkan dengan wilayah budaya suku-suku lainnya di Sumatra Selatan. Selain itu, bila dilihat dari karakter masyarakatnya, suku Komering dikenal memiliki temperamen yang tinggi dan keras.
Berdasarkan cerita rakyat di masyarakat Komering, suku Komering dan suku Batak, Sumatra Utara, dikisahkan masih bersaudara. Kakak beradik yang datang dari negeri seberang. Setelah sampai di Sumatra, mereka berpisah. Sang kakak pergi ke selatan menjadi puyang suku Komering, dan sang adik ke utara menjadi puyang suku Batak.
Berdasarkan temuan dan analisa sejarah, Dusun Minanga Tuha, di daerah marga Semendawai Suku I, atau dusun keenam dari Dusun Gunung Jati diperkirakan merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya bagian awal. Sedangkan Palembang diyakini sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya bagian tengah, dan Jambi sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya bagian akhir. Kala itu, Minanga Tuha, sebagai kota pelabuhan, atau tempat berlangsungnya aktivitas bongkar dan muat barang serta bersandarnya kapal-kapal Sriwijaya maupun kapal-kapal asing yang memiliki baik hubungan dagang, politik, budaya, maupun religi dengan Sriwijaya.
Sejak abad pertengahan, suku Komering, sama halnya dengan rumpun Melayu lainnya, menerima Islam sebagai sebuah agama dan kepercayaan. Kedatangan Islam itu melahirkan mitos. Mitosnya mengenai seorang panglima dari bala tentara Fatahilah, Banten, bernama Tandipulau, yang menjadi tamu di daerah marga Semendawai Suku III. Ia datang menggunakan perahu menelusuri Sungai Komering. Tandipulau berlabuh dan menetap di daerah marga Semendawai Suku III, tepatnya di Dusun Kuripan. Keturunan Tandipulau membuka permukiman baru di seberang sungai atau seberang dusun Kuripan, yang disebut Dusun Gunung Jati. Selanjutnya, marga Semendawai disebut keturunan Tandipulau dari Dusun Kuripan.
Tandipulau dalam bahasa Komering berarti ‘tuan di pulau’. Makamnya, yang terletak di Dusun Kuripan, hingga kini masih terpelihara. Masyarakat Komering, khususnya marga Semendawai, sering berziarah kubur ke makam tersebut.
Rumah tradisi Komering
Salah satu tanda kebudayaan Komering dari masa lalu, yang hingga kini tetap terjaga adalah rumah. Pada masyarakat Komering, khususnya marga Semendawai, memiliki atau mengenal dua jenis rumah tempat tinggal yang bersifat tradisional, yakni rumah ulu dan rumah gudang.
Berdasarkan struktur bangunan, antara rumah ulu dan rumah gudang pada prinsipnya sama, tapi pembangunan rumah gudang umumnya cenderung mengalami beberapa modifikasi, dan tidak patuh lagi seperti rumah-rumah ulu, terutama untuk arah hadap seperti hulu (utara), liba(selatan), darak (barat), dan laok (timur). Perbedaan lainnya, pada rumah gudang, selalu dibuat atau ada ventilasi yang posisinya tepat berada di atas setiap pintu dan jendela, sedangkan pada rumah ulu tidak mengenal ventilasi udara.
Baik rumah gudang maupun rumah ulu merupakan jenis rumah panggung atau rumah yang memiliki tiang penyangga. Bahan utama pembuatan rumah gudang dan ulu adalah kayu atau papan.
Lantaran rumah gudang Komering lebih muda jika dibandingkan dengan rumah ulu, rumah ini sudah mengenal dan menerapkan kombinasi antara bahan kayu dan paku, kaca, cat, porselen atau marmer, genteng, dan semen. Misalnya banyak tangga atau disebut ijan mukak rumah gudang yang terbuat dari semen berlapis keramik, atau daun pintu dan jendelanya sudah dikombinasikan dengan kaca. Bahkan, kecenderungan akhir-akhir ini, rumah gudang sudah menggunakan tiang penyangga teknik cor beton dan atau batu bata, yang sebelumnya dari gelondong. Dan, di antara tiang rumah umumnya sudah pula diberi dinding semi permanen atau permanen, kemudian dijadikan tempat tinggal atau lambahan bah (rumah bawah). Mengingat bahan kayu yang saat ini semakin langka dan mahal, tampaknya masyarakat Komering lebih banyak memilih atau membangun jenis rumah gudang.
Rumah ulu sepenuhnya menggunakan bahan kayu atau papan. Tiang penyangga menggunakan gelondongan, lalu tangga, dinding, pintu, dan jendela menggunakan papan. Atap rumah dibuat dari daun enau dengan teknik rangkai-tumpuk. Tapi mengingat daya tahan dan gampang terbakar, sekarang atap daun enau ini diganti atap genteng.
Sambungan kayu pada rumah ulu tidak menggunakan paku, tetapi menggunakan pasak kayu atau bambu, termasuk untuk engsel pintu, dan jendelanya juga masih menggunakan teknik engsel pasak. Mengingat bahan kayu yang saat ini mahal dan langka, sejak tiga dasawarsa terakhir, masyarakat Komering mulai jarang membangun rumah ulu.
Berdasarkan struktur bangunannya, rumah ulu terbagi atas tiga bagian, yakni bagian depan (garang), rumah bagian tengah atau utama (ambin, haluan, dan kakudan) serta rumah bagian belakang (pawon). Bagi masyarakat Komering, rumah tengah atau utama bersifat sakral, sedangkan garang atau pawon bersifat profan sehingga pada pintu depan (rawang balak) dari garang ke haluan, dan juga pada pintu belakang (rawang pawon) dari kakudan ke pawon, konstruksi kusen pintunya dibuat tinggi atau ada langkahan (ngalangkah). Rumah tengah atau utama dibagi menjadi tiga ruang, yaitu ambin atau kamar tidur, haluan, dan kakudan.
Berdasarkan struktur lantai pada rumah ulu, dapat diketahui setiapruang memiliki hierarkis yang ditandai peninggian atau merendahkan lantai ruangannya.
Ambin memiliki kedudukan yang tertingggi (dunia atas), selanjutnya haluan dan kakudan (dunia tengah) serta garang dan pawon (dunia bawah). Untuk lantai haluan sama tinggi dengan lantai kakudan , dan di antara keduanya tidak terdapat dinding.
Berdasarkan hierarki rumah ulu, haluan memiliki tingkatan yang sama dengan kakudan, namun keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Haluan (perempuan) dan kakudan (laki-laki). Sebagai penanda bahwa adanya perbedaan fungsi antara haluan dan kakudanp>, di antara lantai haluan dan kakudan diberi kayu balok panjang yang posisinya melintang, dan di atasnya ada sangai (tiang), sebagai perantara haluan dengan kakudan.
Sedangkan untuk lantai garang dan pawon (dunia bawah) posisinya paling rendah baik dari lantai ambin, haluan, maupun kakudan. Haluan posisinya berada di tengah-tengah rumah ulu, diapit dari arah sebelah laok-darak (barat-timur) dan hulu-liba/hilir (utara-selatan), yakni oleh ambin-kakudan dan garang-pawon.
Ambin (kamar tidur) memiliki kedudukan tertinggi dan suci, sejalan dengan pandangan masyarakat Komering bahwa keluarga harus dijunjung tinggi kesucian dan kehormatannya. Karenanya, dalam struktur rumah ulu, posisi ambin di sebelah laok (barat=arah salat/kiblat).
Haluan adalah perempuan, sedangkan kakudan adalah laki-laki, itulah sebabnya balai pari (lumbung padi = perempuan) posisinya tepat di bawah haluan, dan kandang hewan berada di bawah kakudan (tanduk =laki-laki).
Dalam sebuah acara adat yang disebut Ningkuk, haluan hanya diperuntukkan bagi perempuan dan kakudan tempat laki-laki. Jika ada pemuda yang bertamu ke rumah seorang gadis, si pemuda hanya boleh duduk di kakudan, dan si gadisnya harus berada di haluan. Untuk tamu yang baru dikenal biasanya akan dijamu di garang, sedangkan untuk tamu-tamu yang sudah dikenal baik oleh tuan rumah, biasanya akan dipersilakan masuk dengan melangkah rawang balak (hubungan darah dan mentalitas kelompok atau keluarga).
Dalam upacara adat melamar, ketika pihak keluarga calon besan mempelai laki-laki baru datang, terlebih dahulu mereka akan ditempatkan di garang, setelah menjalani beberapa prosesi, barulah rombongan dapat dipersilakan masuk ke rumah tengah atau utama, dalam hal ini haluan untuk perempuan dan kakudan bagi laki-laki. Demikian pula pada saat akan melangsungkan akad nikah, posisi duduk calon mempelai laki-laki harus di kakudan, sedangkan calon mempelai wanita di haluan. Setelah selesai akad nikah, baru kedua mempelai dipersandingkan di pelaminan yang berada di ruang haluan, posisi atau arah hadap pelaminan tempat kedua mempelai bersanding biasanya ke utara atau hulu.
* Erwan Suryanegara bin H Asnawi, perupa
Sumber: Media Indonesia, Minggu, 23 Oktober 2007
Tulisan ini disadur dari :
http://ulunlampung.blogspot.com/2007/12/khazanah-menelusuri-arsitektur-rumah.html
Komentar : Tidak ada komentar »

Kategori : Uncategorized
________________________________________
Suku Komering
20 05 2008

Masyarakat Komering Dihantui Stigma

DUA turis asing bertanya kepada sopir mobil sewaan, apakah ia seorang penakut. “Tentu tidak,” kata si sopir dengan nada tinggi seraya membuka laci mobilnya. Sopir itu menunjukkan sebilah pisau besar yang ia bawa sebagai alat pertahanan diri. Akan tetapi, sopir itu bersikeras menolak ketika diminta untuk mengantarkan kedua turis itu melewati daerah hunian warga Komering.
MENURUT sopir tadi, banyak kejadian yang sering menimpa kendaraan yang lewat di daerah yang dihuni masyarakat Komering. “Tiba-tiba ban kempes, lalu muncul beberapa orang yang merampok penumpang,” tuturnya.
Kisah tersebut tertayang di sebuah situs perjalanan berbahasa Inggris di internet. Tidak diceritakan, apakah akhirnya kedua wisatawan tadi nekat melanjutkan perjalanan melewati wilayah Komering atau mereka menuruti saran sopir untuk mengambil jalan lain.
Satu hal yang jelas, cerita itu merefleksikan kuatnya stigmatisasi terhadap masyarakat Komering sebagai masyarakat yang identik dengan kekerasan dan tindak kriminal. Stereotip itu bahkan sudah “mendunia”, seperti yang terlihat dalam tulisan internet berbahasa Inggris di atas.
SUKU Komering adalah salah satu suku yang ada di Sumatera Selatan. Mereka tinggal di daerah aliran Sungai Komering dan hidup dengan bergantung pada pertanian sebagai mata pencaharian utama.
Jumlah populasi orang Komering saat ini diperkirakan sekitar 140.000 jiwa. Mereka terutama bermukim di beberapa kecamatan yang termasuk wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu/OKU (sebelum dimekarkan) dan Ogan Komering Ilir (OKI). Kecamatan Buay Madang, Buay Pemuka Peliung, Belitang, Cempaka, Simpang, Martapura, dan Tanjung Lubuk adalah daerah asli suku tersebut.
Masyarakat Komering banyak yang merasa keberatan dengan anggapan negatif terhadap mereka. Menurut mereka, ibarat sebuah institusi, kejelekan atau kejahatan tersebut dilakukan oleh oknum yang membawa nama Suku Komering.
“Kejahatan muncul lebih karena alasan ekonomis, bukan karena adat kebiasaan. Toh, buktinya banyak figur orang Komering terdidik yang bisa sukses, termasuk Gubernur Sumatera Selatan (Syahrial Oesman- Red) sekarang,” ujar Ruslan Muchdar, salah seorang tokoh masyarakat Komering yang bermukim di Martapura, ibu kota Kabupaten OKU Timur.
Dalam kesehariannya, menurut Ruslan, masyarakat Komering adalah masyarakat yang taat menjalankan ajaran agama Islam. “Dalam masyarakat Komering, adat sangat dipegang. Orang tua sangat dihormati dan sifat gotong royong pun masih kental,” tutur Ruslan.
Akan tetapi, stigmatisasi kekerasan memang kerap menjadi ganjalan bagi warga Komering yang merantau. “Kami mengaku berasal dari Palembang saja. Masyarakat sudah menilai kami sebagai orang yang keras, apalagi jika ketahuan berasal dari Komering. Kesannya, kami ini jahat,” tutur Andi yang berasal dari Belitang.
Selama tinggal di Jakarta, pemuda ini tidak pernah mau menyebut dirinya sebagai orang Komering karena takut dijauhi tetangga atau kenalan baru.
“Tetapi, kalau sedang di Terminal Kalideres (Jakarta) atau tempat-tempat yang agak rawan, saya bilang dari Komering. Orang ternyata jadi segan,” katanya menambahkan.
Meskipun mengaku risi dengan stigma yang melekat pada dirinya sebagai bagian dari suku Komering, pemuda yang bekerja sebagai petugas kebersihan di salah satu pusat perbelanjaan Palembang itu terbiasa mengantongi pisau lipat ke mana pun dia pergi.
Bagaimana asal-usulnya citra kekerasan itu bisa melekat pada suku Komering? “Orang Komering itu rasa kesukuannya sangat kuat dan akan makin tampak jika berhadapan dengan kelompok lain,” papar Sri Sulastri, sosiolog dari Universitas Muhammadiyah Palembang.
Sebenarnya, karakter yang keras juga dimiliki oleh mayoritas suku asli Sumatera Selatan lainnya. Akan tetapi, sikap keakuan yang kuat dalam kelompok-kelompok masyarakat Komering menumbuhkan pandangan “kelompok kami” (in group) dan “kelompok luar” (out group) yang kuat.
Para anggota in group kerap bersikap antipati atau antagonis terhadap anggota out group yang menjadi lawannya. Perasaan ini dapat menjadi dasar terbentuknya suatu sikap yang disebut etnosentrisme. Soekanto (1990) menjabarkan bahwa anggota kelompok sosial tertentu cenderung menganggap kebiasaan yang dimiliki kelompoknya adalah sesuatu yang wajar.
Akibat dari sikap etnosentris ini, masyarakat dalam kelompok itu sukar untuk mengubah kebiasaan mereka meskipun mereka menyadari sikapnya salah. “Dalam masyarakat Komering, sifat-sifat itu berkembang menjadi stereotip sebagai masyarakat yang keras, egois, dan tidak mau mengalah,” papar Sulastri.
Pada masyarakat Komering, sifat pengelompokan tersebut juga dipengaruhi sistem pemerintahan desa pada masa pemerintahan Belanda dan Kesultanan Palembang yang disebut dengan “marga”. Marga terbentuk dari kesatuan dusun-dusun.
Masyarakat penghuni dusun tersebut disatukan oleh ikatan keturunan yang kuat antarmereka dan rasa kepemilikan atas wilayah yang mereka diami. “Karena tidak semua wilayah marga itu subur, muncul kecemburuan terhadap warga dari marga lain meskipun sesama suku Komering,” papar Sulastri pula.
Sejarah perkembangan masyarakat untuk mempertahankan hidupnya, lanjut Sulastri, kerap diwarnai oleh kekerasan. Termasuk yang dilakukan oleh masyarakat Komering yang terbagi dalam marga-marga.
“Ditambah ada kecenderungan untuk cari gampangnya saja sehingga mendorong kejahatan oleh kelompok,” ujar Sulastri.
Namun, ia menggarisbawahi bahwa tingkat kesejahteraan lebih dominan untuk memicu terjadinya kriminalitas. “Marga yang wilayahnya gersang biasanya penghuninya lebih temperamental dan cenderung lebih berani melakukan kejahatan,” ungkapnya.
Tekanan ekonomi memang bisa menjadi pemicu seorang individu melakukan tindakan ilegal. Jika ditelusuri, sejumlah daerah Komering yang tergolong rawan adalah daerah yang kalah makmur dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Daerah tersebut bahkan menjadi daerah yang ditakuti oleh masyarakat Komering sendiri.
Sebutlah ruas jalan yang menghubungkan Kecamatan Martapura dengan Kecamatan Cempaka atau ruas jalan dari Kecamatan Simpang menuju Lampung yang melewati daerah Kota Baru. Warga sekitar pun memilih untuk tidak melintasi jalan tersebut sendirian pada siang hari, terlebih lagi pada malam hari.
“Justru siang bolong itu sering kejadian orang digerandong (dirampok), pengemudinya dianiaya, lalu motornya dirampas,” tutur Ruhani, seorang warga Martapura.
Warga Belitang yang tergolong makmur karena memiliki sawah irigasi sehingga mampu panen tiga kali dalam setahun termasuk yang kerap menjadi sasaran empuk. Jangan heran jika petani di Desa Kurungan Nyawa, Belitang, yang cukup mampu pun memilih tidak memperlihatkan kesejahteraannya secara mencolok.
“Kalau kami kelihatan punya barang-barang ini itu, punya sepeda motor, malah bisa celaka,” tutur seorang warga Kurungan Nyawa.
Dari segi ekonomi, stigma kerawanan daerah Komering tentu sangatlah merugikan, apalagi jika menimbang potensi pertanian, perkebunan, dan jasa angkutan. Sebagai ilustrasi, meskipun ruas jalan yang menghubungkan Palembang- Kayu Agung-Martapura lebih mulus dan jaraknya lebih pendek daripada ruas Palembang- Baturaja-Martapura, namun angkutan barang dan penumpang memilih untuk menghindari jalur tersebut. Lagi-lagi karena faktor keamanan.
“Stigma kekerasan akan terus menempel dan justru akan mematikan daerah itu. Masyarakat akan cenderung menganggap orang yang lewat sebagai musuh,” tutur Sulastri.
Pendapat yang sama juga disampaikan Ruslan Muchdar. “Jika tingkat kesejahteraan dan pendidikan diperbaiki, tentu akan ada perubahan sikap di masyarakat. Tanpa itu, masyarakat Komering akan terus dihantui oleh stigma,” ujarnya menambahkan. (DOTY DAMAYANTI)
Disadur dari Kompas Tgl 4 Juni 2004
Komentar : Tidak ada komentar »

Kategori : Uncategorized
________________________________________
________________________________________
Cari

Taut
• Blogroll
o WordPress.com
o WordPress.org


________________________________________
Blog pada WordPress.com. • Theme: Freshy by Jide